Monthly Archives

April 2016

Islam

Ibu

April 26, 2016

ibu-anak

Jika Berkata tentang ibu berarti berkata tentang orang yang melahirkan kita kedunia ini tanpa beliau kita tidak akan ada di dunia ini. Ibu mempunyai kedudukan yang lebih tinggi di bandingkan Ayah.

Dalam beberapa ayat Al-qur’an dan Al-hadits lebih ditekankan lagi terhadap orang tua perempuan atau Ibu, sebagaimana dalam hadits berikut ini:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟

قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ

Dari Abu Hurairah r.a, Rasululloh saw bersabda, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Pendapat Imam Al-Qurthubi dalam menjelaskan hadits tersebut adalah; “Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalammenghadapi masa hamil, kesulitan ketikamelahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya. (Tafsir Al-Qurthubi X : 239)

Sedangkan Imam Adz-Dzahabi rahimahullaah dalam kitabnya Al-Kabaair memberikan penjelasan lebih luas tentang sosok Ibu dalam hadits tersebut:

Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan, seolah-olah sembilan tahun.

Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya.

Dia telah menyusuimu dari putingnya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu.

Dia cuci kotoranmu dengan tangan kirinya, dia lebih utamakan dirimu dari padadirinya serta makanannya.

Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu.

Dia telah memberikanmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu.

Seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suaranya yang paling keras.

Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik.

Dia selalu mendo’akanmu dengan taufik, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.

Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu.

Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar.

Engkau puas minum dalam keadaan dia kehausan.

Engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu.

Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat.

Berat rasanya atasmu memeliharanya padahal itu adalah urusan yang mudah.

Engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek.

Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.

Padahal Allah telah melarangmu berkata ‘ah’ dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut.

Engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu.

Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul ‘aalamin.

(Akan dikatakan kepadanya),

Mengapa Rasululloh SAW memerintahkan untuk menghormati seorang “Ibu” dalam tiga kali dari seorang “Ayah”? Apabila kita coba cermati secara seksama, maka akan kita temukan beberapa alasan yang mendasarinya, yang mana alasan itu juga disebutkan dalam ayat Al-qur’an maupun Al-hadits.

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Al-Ahqaaf : 15)

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14)

Kedua ayat tersebut kalau kita cermati, terdapat tiga pekerjaan yang dilakukan seorang ibu, yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang ayah, dan pekerjaan ketiganya merupakan pekerjaan yang berat. Namun demikian jika itu dilakukan dengan senang, sabar, dan dalam rangka mencari ridlo Alloh SWT, maka pekerjaan itu merupakan bagian dari jihad seorang ibu, yang pahalanya sungguh luar biasa diberikan oleh Alloh SWT.

1. Ibu “mengandung” bayi

Pekerjaan “mengandung” memang hanya diberikan oleh Alloh SWT kepada seorang wanita, makanya “rahim” sebagai tempat mengandung juga hanya dipunyai dan melekat dalam tubuh seorang wanita, yang letaknya pada bagian perut, sedangkan seorang laki-laki, walaupun sama-sama mempunyai perut, tetapi tidak diciptakan rahim di dalamnya.

Oleh karenanya, ketika sepasang suami istri ingin mempunyai anak, kemudian Alloh SWT mengabulkan dan mentakdirkannya, maka setelah terjadi pertemuan antara sel sperma yang dimiliki laki-laki dengan sel telur yang dimiliki perempuan, yang hasil pertemuan itu dinamakan “pembuahan” kemudian menghasilkan “janin”, maka secara automatically janin tersebut tersimpan dalam rahim sang istri. Di dalam rahim itulah janin akan tumbuh terus dengan mendapatkan asupan makanan dan oksigen dari ibu yang mengandungnya melalui saluran plasenta yang letaknya di dalam rahim itu juga.

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)(23:12-13).

Seiring dengan perjalanan waktu dengan izin Alloh SWT janin akan tumbuh semakin besar menuju bentuk yang sempurna(bayi/manusia kecil) dengan dilengkapi berbagai perangkat yang melekat pada tubuhnya, persis seperti yang dimiliki oleh ayah dan ibunya, dan saat itu juga berat badan bayi semakin bertambah berat, maka disitulah beban yang harus dibawa seorang ibu semakin berat juga.

Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

Seorang ibu harus mengandung bayi tersebut dan terus membawanya kemanapun dia pergi, yang tidak mungkin dititipkan pada orang lain atau ditaruh /diletakkan di tempat tertentu untuk sementara waktu agar tidak lelah membawanya kesana kemari. Pekerjaan itu harus ibu lakukan sendiri, tidak ada orang lain atau bahkan suaminya sendiri yang bisa membantu membawa sang bayi yang ada dalam kandungannya, itu harus dia alami selama kurang labih sembilan bulan sepuluh hari,dan semakin mendekati hari kelahiran, akan semakin lemah dan bertambah kepayahan.

Sungguh luar biasa perjuangan seorang ibu yang mengandung anaknya, maka ingatlah kepada Alloh SWT dan jangan lupakan orang tua terutama ibumu

2. Ibu “melahirkan” bayi

Ketika bayi yang ada dalam kandungan sudah sempurna bentuknya, dan sudah saatnya melihat dunia luar, maka sang Ibu harus berjuang dengan taruhan nyawa untuk mengeluarkan bayi tersebut, yang proses itu disebut”melahirkan“. Proses melahirkan merupakan pekerjaan yang hanya dimiliki dan harus ditanggung oleh seorang wanita/ibu, sebagai konsekuensi dari mengandung bayi.

Prosesnya melahirkan sangat luar biasa sakitnya, terutama disaat-saat bayi membuka pintu keluar bagi dirinya sedikit-demi sedikit atau yang sering disebut “kontraksi” sampai saat bayi mendapatkan pintu yang lebar untuk keluar dengan mudah. Saat itulah sang ibu menahan dan melepas nafas, menahan sakit, bahkan ada yang sampai tidak sadar menggigit orang yang ada didekatnya hingga berdarah, karena saking sakitnya.

Maka sebagai seorang muslim/muslimah pada saat melahirkan harus banyak berdzikir, menyebut nama Alloh SWT, dan sang suami beserta keluarganya berdo’a meminta kemudahan dan keselamatan ibu dan anaknya agar bisa lahir dengan lancar.

Begitu beratnya perjuangan saat melahirkan, jika atas takdir Alloh SWT kemudian sang ibu muslim meninggal, maka termasuk dalam kategori mati syahid, Subhanalloh.

الشُّهَدَاءُ سَبْعَةٌ سِوَى الْقَتْلِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ : الْمَطْعُونُ شَهِيدٌ ، وَالْغَرِقُ شَهِيدٌ ، وَصَاحِبُ ذَاتِ الْجَنْبِ شَهِيدٌ، وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ ، وَالْحَرِقُ شَهِيدٌ ، وَالَّذِي يَمُوتُ تَحْتَ الْهَدْمِ شَهِيدٌ ، وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهِيد .

“Syuhada’ (orang-orang mati syahid) yang selain terbunuh di jalan Allah itu ada tujuh: Korban wabah tha’un adalah syahid, mati tenggelam adalah syahid, penderita penyakit lambung (semacam liver) adalah syahid, mati karena penyakit perut adalah syahid, korban kebakaran adalah syahid, yang mati tertimpa reruntuhan adalah syahid, dan seorang wanita yang meninggal karena melahirkan adalah syahid.” (HR. Malik, Ahmad, Abu Dawud, dan al-nasai, juga Ibnu Majah. Berkata Syu’aib Al Arnauth: hadits shahih).

Walaupun pada zaman sekarang, seiring dengan perkembangan teknologi kedokteran, seorang wanita yang akan melahirkan tidak harus melalui jalan keluar yang normal, dengan alasan kondisi sang ibu dan bayinya atau alasan medis lainnya, mengeluarkan bayi dari kandungan sang ibu bisa melalui cara pembedahan perut, yang barang kali bisa dibilang menjadi trend melahirkan jaman sekarang, karena pada saat dilakukan operasi bedah, sang ibu akan dibius, sehingga tidak merasakan sakit, sedangkan dalam melahirkan secara normal, sang ibu tidak mungkin dibius, karena dia harus aktif untuk mendorong bayi keluar dengan tekanan pernafasannya. Tetapi bagaimanapun juga  dalam proses operasi pembedahan yang menjadi taruhan nyawa juga sang ibu. Itulah perjuangan seorang wanita/ibu dalam melahirkan bayi.

Sungguh luar biasa perjuangan seorang ibu yang melahirkan anaknya, maka ingatlah kepada Alloh SWT dan jangan lupakan orang tua terutama ibumu.

3. Ibu”menyusui dan mengasuh ” bayi

Setalah bayi keluar dari kandungan, sang ibu juga tidak beristirahat begitu saja, tetapi dia harus menyusuinya setiap saat dan setiap waktu bayi itu kelaparan, karena pada saat umur masih dibawah 3(tiga) bulan lambung sang bayi belum begitu kuat menerima makanan, selain dalam bentuk susu, dan air susu ibu(ASI) mempunyai kandungan yang luar biasa, selain mengenyangkan juga memberi antibody bagi sang anak dari serangan penyakit. Islam memerintahkan sang ibu menyusui anak dalam waktu 2(dua) tahun, dan ketika asi itu tidak dikeluarkan, juga berpanguruh pada sang ibu, terkadang mengalami demam dan sakit.

Belum lagi kalau malam hari harus terjaga, karena bayi biasanya sering bangun malam-malam, menangis dan rewel… maka sang ibu yang masih dalam kondisi kelelahan pada saat melahirkan atau kurang tidur harus bangun menyusuinya untuk menenangkan, apabila masih tetap menangis harus menggendongnya,menghiburnya, mengayun-ayunnya sambil mata sang ibu menahan kantuk dan itupun dilakukannya dengan ikhlash dan kasih sayang…disaat yang sama terkadang sang ayah masih terlelap tidur..seolah tidak peduli.

Kalau sang bayi buang kotoran atau buang air kecil(ngompol)….…sang ibu juga akan dengan sabar membersihkannya dalam setiap saat dan setiap waktu..tanpa merasa jijik dan menyesal, tetapi dilakukan dengan senang hati.

Disaat sang ibu harus melakukan pekerjaan lain seperti memasak, menyapu, mencuci piring, harus sambil mengendong bayi yang tidak mau ditidurkan ditempat tidur.

Namun ada juga seorang ibu yang membuang bayinya karena malu atau tega menyakiti bayinya karena punya persoalan kemisikinan, bertengkar dengan suaminya, atau bahkan ada yang tega membunuhnya, tetapi perbuatan itu semua merupakan perbuatan yang diluar kenormalan manusia atau ketidakwajaran pada umumnya sebagai seorang ibu. Ada pepatah “sebuas-buas harimau tidak akan memakan anaknya”.

4. Ibu “mendidik” anak

Pendidikan usia dini sangatlah penting bagi perkembangan seorang anak, dan kedekatan seorang anak tentunya lebih kepada ibunya dibanding pada ayahnya, karena jika ibunya tidak bekerja diluar rumah, maka hampir setiap saat dan setiap waktu akan mendapatkan belaian sang ibu, sedangkan sang ayah yang mencari nafkah diluar rumah terkadang jarang bertemu. Kedekatan ibu terhadap anaknya inilah yang lebih mudah memberi pengajaran kepada anak, dan pendidikan seorang ibu kepada anaknya terbukti lebih berhasil.

Banyak peristiwa yang terjadi diamana seorang ibu yang berpisah dengan suaminya, entah karena suami meninggal atau perceraian, tetapi sang ibu tetap tegar, mandiri dan berhasil mengantarkan anak-anaknya dewasa serta meraih kesuksesan, walaupun harus merangkap sebagai kepala keluarga yang harus mencari nafkah buat diri dan anak-anaknya, yang hal itu sangat berbeda dengan seorang suami yang berpisah dengan istrinya. Makanya ada guyonan” jika istri berpisah dengan suami lebih banyak memikirkan pendidikan anak-anaknya, tetapi jika suami berpisah dengan istri lebih berfikir bagaimana dan kapan mencari pengganti ibunya anak-anak

Dengan empat alasan itulah kita harus selalu menghormati orang tua kita dan selalu mendoakannya serta memeliharanya ketika sudah berumur senja seperti mereka memelihara kita diwaktu kecil.

Berikut 9 kemuliaan seorang ibu dalam islam.

  1. Dua rakaat solat wanita yang hamil lebih baik dari 80 rakaat solat wanita yang tidak hamil
  2. Pada siang hari, seorang ibu hamil mendapat pahala puasa sedangkan di malam harinya ia mendapat pahala shalat.
  3. Pada saat melahirkan, seorang Ibu mendapat pahala 70 tahun shalat dan puasa. Sedangkan untuk kesakitan yang dialami, Allah mengganjar kesakitan satu urat dengan satu pahala haji.
  4. Jika seorang ibu meninggal dalam masa 40 hari setelah melahirkan, maka ia mati syahid.
  5. Seorang ibu yang menyusui anaknya mendapat satu pahala dari setiap titik yang ia berikan pada anaknya.
  6. Jika seorang ibu memberi susu pada anaknya yang menangis, maka Allah mengganjarnya dengan pahala satu tahun shalat dan puasa.
  7. Jika seorang ibu menunaikan kewajibannya menyusui selama dua setengah tahun, maka malaikat di langit langsung menyebarkan berita bahwa surge wajib baginya.
  8. Ketika seorang ibu tidak tidur dengan nyenyak karena menjaga anaknya yang sakit, maka ia mendapat pahala setara dengan pahala membebaskan 20 orang hamba sahaya.
  9. Seorang ibu yang kurang tidur karena menjaga anak yang sakit akan diampunkan seluruh dosanya dan jika ia menghibur anaknya yang sakit, Allah beri padanya pahala 12 tahun ibadah.
Islam

Memilih Pasangan Idaman

April 7, 2016

Setiap muslim yang ingin beruntung dunia akhirat hendaknya mengidam-idamkan sosok suami dan istri dengan kriteria sebagai berikut ini…

anak yatim, orang miskin

Terikatnya jalinan cinta dua orang insan dalam sebuah pernikahan adalah perkara yang sangat diperhatikan dalam syariat Islam yang mulia ini. Bahkan kita dianjurkan untuk serius dalam permasalahan ini dan dilarang menjadikan hal ini sebagai bahan candaan atau main-main.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

ثلاث جدهن جد وهزلهن جد: النكاح والطلاق والرجعة

“Tiga hal yang seriusnya dianggap benar-benar serius dan bercandanya dianggap serius: nikah, cerai dan ruju.’” (Diriwayatkan oleh Al Arba’ah kecuali An Nasa’i. Dihasankan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah)

Salah satunya dikarenakan menikah berarti mengikat seseorang untuk menjadi teman hidup tidak hanya untuk satu-dua hari saja bahkan seumur hidup, insya Allah. Jika demikian, merupakan salah satu kemuliaan syariat Islam bahwa orang yang hendak menikah diperintahkan untuk berhati-hati, teliti dan penuh pertimbangan dalam memilih pasangan hidup.

Sungguh sayang, anjuran ini sudah semakin diabaikan oleh kebanyakan kaum muslimin. Sebagian mereka terjerumus dalam perbuatan maksiat seperti pacaran dan semacamnya, sehingga mereka pun akhirnya menikah dengan kekasih mereka tanpa memperhatikan bagaimana keadaan agamanya. Sebagian lagi memilih pasangannya hanya dengan pertimbangan fisik. Mereka berlomba mencari wanita cantik untuk dipinang tanpa peduli bagaimana kondisi agamanya. Sebagian lagi menikah untuk menumpuk kekayaan. Mereka pun meminang lelaki atau wanita yang kaya raya untuk mendapatkan hartanya. Yang terbaik tentu adalah apa yang dianjurkan oleh syariat, yaitu berhati-hati, teliti dan penuh pertimbangan dalam memilih pasangan hidup serta menimbang anjuran-anjuran agama dalam memilih pasangan.

Setiap muslim yang ingin beruntung dunia akhirat hendaknya mengidam-idamkan sosok suami dan istri dengan kriteria sebagai berikut:

1. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya

Ini adalah kriteria yang paling utama dari kriteria yang lain. Maka dalam memilih calon pasangan hidup, minimal harus terdapat satu syarat ini. Karena Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertaqwa.” (QS. Al Hujurat: 13)

Sedangkan taqwa adalah menjaga diri dari adzab Allah Ta’ala dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Maka hendaknya seorang muslim berjuang untuk mendapatkan calon pasangan yang paling mulia di sisi Allah, yaitu seorang yang taat kepada aturan agama. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pun menganjurkan memilih istri yang baik agamanya,

تنكح المرأة لأربع: لمالها ولحسبها وجمالها ولدينها، فاظفر بذات الدين تربت يداك

“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إذا جاءكم من ترضون دينه وخلقه فزوجوه إلا تفعلوه تكن فتنة في الأرض وفساد كبير

“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi. Al Albani berkata dalam Adh Dho’ifah bahwa hadits ini hasan lighoirihi)

Jika demikian, maka ilmu agama adalah poin penting yang menjadi perhatian dalam memilih pasangan. Karena bagaimana mungkin seseorang dapat menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, padahal dia tidak tahu apa saja yang diperintahkan oleh Allah dan apa saja yang dilarang oleh-Nya? Dan disinilah diperlukan ilmu agama untuk mengetahuinya.

Maka pilihlah calon pasangan hidup yang memiliki pemahaman yang baik tentang agama. Karena salah satu tanda orang yang diberi kebaikan oleh Allah adalah memiliki pemahaman agama yang baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Orang yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapat kebaikan akan dipahamkan terhadap ilmu agama.” (HR. Bukhari-Muslim)

2. Al Kafa’ah (Sekufu)

Yang dimaksud dengan sekufu atau al kafa’ah -secara bahasa- adalah sebanding dalam hal kedudukan, agama, nasab, rumah dan selainnya (Lisaanul Arab, Ibnu Manzhur). Al Kafa’ah secara syariat menurut mayoritas ulama adalah sebanding dalam agama, nasab (keturunan), kemerdekaan dan pekerjaan. (Dinukil dari Panduan Lengkap Nikah, hal. 175). Atau dengan kata lain kesetaraan dalam agama dan status sosial. Banyak dalil yang menunjukkan anjuran ini. Di antaranya firman Allah Ta’ala,

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ

“Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula.” (QS. An Nur: 26)

Al Bukhari pun dalam kitab shahihnya membuat Bab Al Akfaa fid Diin (Sekufu dalam agama) kemudian di dalamnya terdapat hadits,

تنكح المرأة لأربع: لمالها ولحسبها وجمالها ولدينها، فاظفر بذات الدين تربت يداك

“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih karena agamanya (keislamannya), sebab kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim)

Salah satu hikmah dari anjuran ini adalah kesetaraan dalam agama dan kedudukan sosial dapat menjadi faktor kelanggengan rumah tangga. Hal ini diisyaratkan oleh kisah Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dinikahkan dengan Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha. Zainab adalah wanita terpandang dan cantik, sedangkan Zaid adalah lelaki biasa yang tidak tampan. Walhasil, pernikahan mereka pun tidak berlangsung lama. Jika kasus seperti ini terjadi pada sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apalagi kita?

3. Menyenangkan jika dipandang

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang telah disebutkan, membolehkan kita untuk menjadikan faktor fisik sebagai salah satu kriteria memilih calon pasangan. Karena paras yang cantik atau tampan, juga keadaan fisik yang menarik lainnya dari calon pasangan hidup kita adalah salah satu faktor penunjang keharmonisan rumah tangga. Maka mempertimbangkan hal tersebut sejalan dengan tujuan dari pernikahan, yaitu untuk menciptakan ketentraman dalam hati.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا

“Dan di antara tanda kekuasaan Allah ialah Ia menciptakan bagimu istri-istri dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram denganya.” (QS. Ar Ruum: 21)

Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan 4 ciri wanita sholihah yang salah satunya,

وان نظر إليها سرته

“Jika memandangnya, membuat suami senang.” (HR. Abu Dawud. Al Hakim berkata bahwa sanad hadits ini shahih)

Oleh karena itu, Islam menetapkan adanya nazhor, yaitu melihat wanita yang yang hendak dilamar. Sehingga sang lelaki dapat mempertimbangkan wanita yang yang hendak dilamarnya dari segi fisik. Sebagaimana ketika ada seorang sahabat mengabarkan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ia akan melamar seorang wanita Anshar. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أنظرت إليها قال لا قال فاذهب فانظر إليها فإن في أعين الأنصار شيئا

“Sudahkah engkau melihatnya?” Sahabat tersebut berkata, “Belum.” Beliau lalu bersabda, “Pergilah kepadanya dan lihatlah ia, sebab pada mata orang-orang Anshar terdapat sesuatu.” (HR. Muslim)

4. Subur (mampu menghasilkan keturunan)

Di antara hikmah dari pernikahan adalah untuk meneruskan keturunan dan memperbanyak jumlah kaum muslimin dan memperkuat izzah (kemuliaan) kaum muslimin. Karena dari pernikahan diharapkan lahirlah anak-anak kaum muslimin yang nantinya menjadi orang-orang yang shalih yang mendakwahkan Islam. Oleh karena itulah, Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk memilih calon istri yang subur,

تزوجوا الودود الولود فاني مكاثر بكم الأمم

“Nikahilah wanita yang penyayang dan subur! Karena aku berbangga dengan banyaknya ummatku.” (HR. An Nasa’I, Abu Dawud. Dihasankan oleh Al Albani dalam Misykatul Mashabih)

Karena alasan ini juga sebagian fuqoha (para pakar fiqih) berpendapat bolehnya fas-khu an nikah (membatalkan pernikahan) karena diketahui suami memiliki impotensi yang parah. As Sa’di berkata: “Jika seorang istri setelah pernikahan mendapati suaminya ternyata impoten, maka diberi waktu selama 1 tahun, jika masih dalam keadaan demikian, maka pernikahan dibatalkan (oleh penguasa)” (Lihat Manhajus Salikin, Bab ‘Uyub fin Nikah hal. 202)

Kriteria Khusus untuk Memilih Calon Suami

Khusus bagi seorang muslimah yang hendak memilih calon pendamping, ada satu kriteria yang penting untuk diperhatikan. Yaitu calon suami memiliki kemampuan untuk memberi nafkah. Karena memberi nafkah merupakan kewajiban seorang suami. Islam telah menjadikan sikap menyia-nyiakan hak istri, anak-anak serta kedua orang tua dalam nafkah termasuk dalam kategori dosa besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كفى بالمرء إثما أن يضيع من يقوت

“Cukuplah seseorang itu berdosa bila ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud. Al Hakim berkata bahwa sanad hadits ini shahih).

Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun membolehkan bahkan menganjurkan menimbang faktor kemampuan memberi nafkah dalam memilih suami. Seperti kisah pelamaran Fathimah binti Qais radhiyallahu ‘anha:

عن فاطمة بنت قيس رضي الله عنها قالت‏:‏ أتيت النبي صلى الله عليه وسلم، فقلت‏:‏ إن أبا الجهم ومعاوية خطباني‏؟‏ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم‏:‏‏”‏أما معاوية، فصعلوك لا مال له ، وأما أبوالجهم، فلا يضع العصا عن عاتقه‏

“Dari Fathimah binti Qais radhiyallahu ‘anha, ia berkata: ‘Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku berkata, “Sesungguhnya Abul Jahm dan Mu’awiyah telah melamarku”. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Adapun Mu’awiyah adalah orang fakir, ia tidak mempunyai harta. Adapun Abul Jahm, ia tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya”.” (HR. Bukhari-Muslim)

Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak merekomendasikan Muawiyah radhiyallahu ‘anhu karena miskin. Maka ini menunjukkan bahwa masalah kemampuan memberi nafkah perlu diperhatikan.

Namun kebutuhan akan nafkah ini jangan sampai dijadikan kriteria dan tujuan utama. Jika sang calon suami dapat memberi nafkah yang dapat menegakkan tulang punggungnya dan keluarganya kelak itu sudah mencukupi. Karena Allah dan Rasul-Nya mengajarkan akhlak zuhud (sederhana) dan qana’ah (menyukuri apa yang dikarunai Allah) serta mencela penghamba dan pengumpul harta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تعس عبد الدينار، والدرهم، والقطيفة، والخميصة، إن أعطي رضي، وإن لم يعط لم يرض

“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamishah dan celakalah hamba khamilah. Jika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah.” (HR. Bukhari).

Selain itu, bukan juga berarti calon suami harus kaya raya. Karena Allah pun menjanjikan kepada para lelaki yang miskin yang ingin menjaga kehormatannya dengan menikah untuk diberi rizki.

وَأَنكِحُوا الْأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاء يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ

“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kalian. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.” (QS. An Nur: 32)

Kriteria Khusus untuk Memilih Istri

Salah satu bukti bahwa wanita memiliki kedudukan yang mulia dalam Islam adalah bahwa terdapat anjuran untuk memilih calon istri dengan lebih selektif. Yaitu dengan adanya beberapa kriteria khusus untuk memilih calon istri. Di antara kriteria tersebut adalah:

1. Bersedia taat kepada suami

Seorang suami adalah pemimpin dalam rumah tangga. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء

“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (QS. An Nisa: 34)

Sudah sepatutnya seorang pemimpin untuk ditaati. Ketika ketaatan ditinggalkan maka hancurlah ‘organisasi’ rumah tangga yang dijalankan. Oleh karena itulah, Allah dan Rasul-Nya dalam banyak dalil memerintahkan seorang istri untuk taat kepada suaminya, kecuali dalam perkara yang diharamkan. Meninggalkan ketaatan kepada suami merupakan dosa besar, sebaliknya ketaatan kepadanya diganjar dengan pahala yang sangat besar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ

“Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan.” (HR. Ibnu Hibban. Dishahihkan oleh Al Albani)

Maka seorang muslim hendaknya memilih wanita calon pasangan hidupnya yang telah menyadari akan kewajiban ini.

2. Menjaga auratnya dan tidak memamerkan kecantikannya kecuali kepada suaminya

Berbusana muslimah yang benar dan syar’i adalah kewajiban setiap muslimah. Seorang muslimah yang shalihah tentunya tidak akan melanggar ketentuan ini. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً

“Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’” (QS. Al Ahzab: 59)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengabarkan dua kaum yang kepedihan siksaannya belum pernah beliau lihat, salah satunya adalah wanita yang memamerkan auratnya dan tidak berbusana yang syar’i. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نساء كاسيات عاريات مميلات مائلات رؤسهن كأسنة البخت المائلة لا يدخلن الجنة ولا يجدن ريحها وإن ريحها ليوجد من مسيرة كذا وكذا

“Wanita yang berpakaian namun (pada hakikatnya) telanjang yang berjalan melenggang, kepala mereka bergoyang bak punuk unta. Mereka tidak akan masuk surga dan bahkan mencium wanginya pun tidak. Padahal wanginya surga dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

Berdasarkan dalil-dalil yang ada, para ulama merumuskan syarat-syarat busana muslimah yang syar’i di antaranya: menutup aurat dengan sempurna, tidak ketat, tidak transparan, bukan untuk memamerkan kecantikan di depan lelaki non-mahram, tidak meniru ciri khas busana non-muslim, tidak meniru ciri khas busana laki-laki, dll.

Maka pilihlah calon istri yang menyadari dan memahami hal ini, yaitu para muslimah yang berbusana muslimah yang syar’i.

3. Gadis lebih diutamakan dari janda

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan agar menikahi wanita yang masih gadis. Karena secara umum wanita yang masih gadis memiliki kelebihan dalam hal kemesraan dan dalam hal pemenuhan kebutuhan biologis. Sehingga sejalan dengan salah satu tujuan menikah, yaitu menjaga dari penyaluran syahawat kepada yang haram. Wanita yang masih gadis juga biasanya lebih nrimo jika sang suami berpenghasilan sedikit. Hal ini semua dapat menambah kebahagiaan dalam pernikahan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عليكم بالأبكار ، فإنهن أعذب أفواها و أنتق أرحاما و أرضى باليسير

“Menikahlah dengan gadis, sebab mulut mereka lebih jernih, rahimnya lebih cepat hamil, dan lebih rela pada pemberian yang sedikit.” (HR. Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Al Albani)

Namun tidak mengapa menikah dengan seorang janda jika melihat maslahat yang besar. Seperti  sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu yang menikah dengan janda karena ia memiliki 8 orang adik yang masih kecil sehingga membutuhkan istri yang pandai merawat anak kecil, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyetujuinya (HR. Bukhari-Muslim)

4. Nasab-nya baik

Dianjurkan kepada seseorang yang hendak meminang seorang wanita untuk mencari tahu tentang nasab (silsilah keturunan)-nya.

Alasan pertama, keluarga memiliki peran besar dalam mempengaruhi ilmu, akhlak dan keimanan seseorang. Seorang wanita yang tumbuh dalam keluarga yang baik lagi Islami biasanya menjadi seorang wanita yang shalihah.

Alasan kedua, di masyarakat kita yang masih awam terdapat permasalahan pelik berkaitan dengan status anak zina. Mereka menganggap bahwa jika dua orang berzina, cukup dengan menikahkan keduanya maka selesailah permasalahan. Padahal tidak demikian. Karena dalam ketentuan Islam, anak yang dilahirkan dari hasil zina tidak di-nasab-kan kepada si lelaki pezina, namun di-nasab-kan kepada ibunya. Berdasarkan hadits,

الوَلَدُ لِلْفِرَاشِ ، وَلِلْعَاهِرِ الْحَجْرُ

“Anak yang lahir adalah milik pemilik kasur (suami) dan pezinanya dihukum.” (HR. Bukhari)

Dalam hadits yang mulia ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya menetapkan anak tersebut di-nasab-kan kepada orang yang berstatus suami dari si wanita. Me-nasab-kan anak zina tersebut kepada lelaki pezina menyelisihi tuntutan hadits ini.

Konsekuensinya, anak yang lahir dari hasil zina, apabila ia perempuan maka suami dari ibunya tidak boleh menjadi wali dalam pernikahannya. Jika ia menjadi wali maka pernikahannya tidak sah, jika pernikahan tidak sah lalu berhubungan intim, maka sama dengan perzinaan. Iyyadzan billah, kita berlindung kepada Allah dari kejadian ini.

Oleh karena itulah, seorang lelaki yang hendak meminang wanita terkadang perlu untuk mengecek nasab dari calon pasangan.

Demikian beberapa kriteria yang perlu dipertimbangkan oleh seorang muslim yang hendak menapaki tangga pernikahan. Nasehat kami, selain melakukan usaha untuk memilih pasangan, jangan lupa bahwa hasil akhir dari segala usaha ada di tangan Allah ‘Azza Wa Jalla. Maka sepatutnya jangan meninggalkan doa kepada Allah Ta’ala agar dipilihkan calon pasangan yang baik. Salah satu doa yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan shalat Istikharah. Sebagaimana hadits dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

إذا هم أحدكم بأمر فليصلِّ ركعتين ثم ليقل : ” اللهم إني أستخيرك بعلمك…”

“Jika kalian merasa gelisah terhadap suatu perkara, maka shalatlah dua raka’at kemudian berdoalah: ‘Ya Allah, aku beristikharah kepadamu dengan ilmu-Mu’… (dst)” (HR. Bukhari)

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shaalihat. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Maraji’:

  1. Al Wajiz Fil Fiqhi As Sunnah Wal Kitab Al Aziz Bab An Nikah, Syaikh Abdul Azhim Badawi Al Khalafi, Cetakan ke-3 tahun 2001M, Dar Ibnu Rajab, Mesir
  2. Panduan Lengkap Nikah dari A sampai Z, terjemahan dari kitab Isyratun Nisaa Minal Alif ilal Ya, Usamah Bin Kamal bin Abdir Razzaq, Cetakan ke-7 tahun 2007, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor
  3. Bekal-Bekal Menuju Pelaminan Mengikuti Sunnah, terjemahan dari kitab Al Insyirah Fi Adabin Nikah, Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini, Cetakan ke-4 tahun 2002, Pustaka At Tibyan, Solo
  4. Manhajus Salikin Wa Taudhihul Fiqhi fid Diin, Syaikh Abdurrahman Bin Nashir As Sa’di, Cetakan pertama tahun 1421H, Darul Wathan, Riyadh
  5. Az Zawaj (e-book), Syaikh Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin, http://attasmeem.com
  6. Artikel “Status Anak Zina“, Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. , http://ustadzkholid.com/fiqih/status-anak-zina/

***
Sumber : www.muslim.or.id

Islam

Sekufu dalam pernikahan

April 7, 2016

163277_137774369617540_75636_n

Ini Videonya ,tonton ia

Apa itu sekufu?

 

Sekufu ialah persamaan di antara calon suami dan isteri daripada beberapa sudut:

 

1. Beragama dan baik. Maksudnya lelaki fasik tidak sekufu dengan perempuan solehah.

Dalam masalah ini, syara’ menganjurkan supaya mencari pasangan yang sekufu dari sudut beragama dan baik akhlak budi bicara.

 

“Bagaimana pula seseorang menikah karena mau berdakwah dan mendidik pasangannya?”

 

Sekiranya seorang lelaki yang kuat agama, alim dan tsiqah perilakunya mau menjadikan seorang perempuan yang sedikit ilmu agamanya bertujuan untuk mendidik. Sekiranya tidak menjadi kesalahan besar. Alhamdulillah jikalau itu matlamat dan niatnya.

 

Tetapi seandainya perempuan yang baik dan beriman mau berkahwin dengan lelaki fasik atas dasar karena mau mendidik lelaki itu. Adalah tidak digalakkan.

 

“Kenapa?” Muncul persoalan.

 

“Bukankah lelaki itu pemimpin wanita? Wanita itu sifatnya lemah lembut? Coba lihat sejauh mana seorang perempuan mampu mengubah seorang lelaki dengan sifat keegoannya yang tinggi? Mampukah?…”

 

“Saya bimbang perempuan yang solehah pada asalnya, solat menjadi tiang hidupnya, puasa menjadi makanan jiwanya, Quran menjadi penawar hatinya, hijab menjadi pakaiannya akan lenyap, terkikis lalu tenggelam ditengah-tengah perilaku si suami fasik..”

 

Saya kurang setuju dan syara’ juga mengambil kira hal ini.

 

Imam Ghazali pernah membicarakan mengenai faedah bernikah antaranya ialah petunjuk dan satu pengislahan jalan beragama.

 

Sekiranya berkahwin dengan seorang lelaki fasik menambahkan kefasikan, bagaimana mahu mendapat petunjuk melalui agama Islam dan beroleh barakah?

 

Sabda Baginda Rasulullah SAW:

 

Daripada Abi Hatim Al-Muzanni katanya, telah bersabda Rasulullah SAW:

“Apabila datang akan sekalian kamu orang yang kamu sukai agamanya dan perangainya maka nikahkanlah olehmu akan dia jika tidak lakukan nescaya jadi fitnah dibumi dan kebinasaan,” kata mereka itu: “Ya Rasulullah dan jika ada padanya sekalipun?”

 

 

Sabda Rasulullah SAW:

“Apabila datang akan sekalian kamu orang yang kamu sekalian sukai agamanya dan perangainya maka nikahkan akan dia, tiga kali.”

 

 

2. Pekerjaan. Lelaki yang mempunyai kerja yang rendah seperti tukang sapu, tukang kebun, pencuci tandas tentulah tidak setaraf dengan anak perempuan Mufti, lelaki alim, Qadi dan tokoh korporat.

 

“Kalau begitu, nampak seperti wujud kasta dan darjat keturunan?”

 

Perlu difahami, bukanlah sekufu itu mahu membezakan darjat dan keturunan seseorang sehingga menganggap pekerjaan sedemikan rupa sebagai suatu pekerjaan yang hina dina. Akan tetapi sekufu adalah bertujuan memberi kelebihan dan kebebasan pihak wanita dan wali untuk memilih bakal menantunya.

 

Sudah tentu wali mahu melihat pilihan jodoh anak perempuannya adalah yang terbaik.

 

3. Tidak mempunyai kecacatan yang boleh menyebabkan berlakunya fasakh dalam perkahwinan.

Contoh lelaki yang mempunyai penyakit Aids HIV, gila, sakit kusta atau sopak sudah tentu tidak sama ataupun setaraf dengan perempuan yang sihat.

 

Selain mendapat malu, dibimbangi juga akan berlaku kemudharatan kepada wanita bilamana berkahwin dengan lelaki berpenyakit sebegitu.

 

Adakah sekufu antara syarat wajib?

 

Tidak, cuma dalam masalah sekufu ianya merupakan hak seorang perempuan dan hak walinya.

Sekufu bukanlah antara syarat sah perkahwinan, ia hanya sebagai langkah mengelakkan wanita dan walinya menanggung malu ataupun berlaku kekeruhan rumah tangga kelak. Di antara tujuan sekufu ialah supaya pihak wanita tidak perlu mengubah kebiasaan hidup mereka.

 

Nabi Muhammad SAW meraikan hak sekufu sebagaimana sabda baginda dalam sebuah hadis bermaksud:

 

“Pilihlah bagi permata-permata kamu (anak-anak perempuan kamu) dan kahwinkanlah dengan yang sekufu dan kahwinkanlah mereka kepadanya.”

 

(Riwayat Hakim: 2/163 Beliau mensahihkannya)

 

Oleh kerana ianya bukan menjadi syarat sah perkahwinan, maka pihak wanita dan wali boleh saja menggugurkan syarat ini mengikut pandangan sendiri. Dengan kata lain, sekiranya wanita dan pihak wali meredhai lelaki yang bakal berkahwin tanpa melihat syarat sekufu maka nikahnya adalah sah.

 

Wallahhua’lam.

 

Rujukan:

 

Muhadharat fi Fiqh As-Sadah As-Syafi’eyyah, Doktor Khalifah Abdul Basit Shahain, Kuliah Tahun 3, Universiti Al-Azhar, Tanta.

 

Fiqh Al-Manhaji, Oleh Dr.Mustofa Al-Khin, Dr.Mustofa Al-Bugho & Ali Asy-Syarbaji.

 

Bahrul Mazi Syarah Mukhtasor Sohih At-Turmuzi, Syeikh Muhammad Idris Abdul Rauf Al-Marbawi Al-Azhari.

 

Sumber : http://faridrashidi.com