Archives

BMS

Survei BMS (Bridge Management System) Atau Survei Jembatan

June 5, 2018

Survei BMS (Bridge Management System) Atau Survei Jembatan

Tentang Survei BMS/ Jembatan

Sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 21/PRT/M/2010 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksanaan Teknis Kementerian Pekerjaan Umum, bahwa Tugas Pokok dan Fungsi Direktorat Jenderal Bina Marga adalah merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standarisasi teknis di bidang Bina Marga. Sedangkan Satuan Kerja Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional Provinsi Jawa Barat mempunyai fungsi menyelenggarakan sebagian tugas Direktorat Jenderal Bina Marga dibidang penyusunan program dan anggaran serta evaluasi kinerja pelaksanaan kebijakan di bidang jalan dan jembatan.

Ketersediaan jembatan sebagai salah satu bangunan penunjang prasarana transportasi,  sangat berpengaruh terhadap terciptanya pengembangan wilayah secara terpadu dan menyeluruh. Mengingat pentingnya peranan jembatan,  maka harus ditinjau kelayakan konstruksi jembatan tersebut,  dalam hubungannya dengan klasifikasi jembatan sesuai dengan tingkat pelayanan dan kemampuannya dalam menerima beban. Dalam kaitannya dengan keselamatan maka perlu diperhatikan juga tingkat keamanan dan kenyamanan dalam pemakaian jembatan tersebut. Untuk menunjang kegiatan penyusunan program maka Satuan Kerja Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional Provinsi Jawa Barat telah dilengkapi dengan Brigde Management System (BMS). Data dan Informasi yang dibutuhkan oleh Program BMS perlu dilakukan pembaruan setiap tahunnya untuk dipergunakan sebagai bahan dalam proses penyusunan program penanganan jembatan dan evaluasi kinerja kondisi jembatan.

Dalam rangka pembaruan data maka Satuan Kerja Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional (P2JN) Provinsi Jawa Barat melaksanakan kegiatan Survey pengumpulan data jembatan BMS. Dalam hal ini P2JN Provinsi Jawa Barat melakukan pemeriksaan detail dan pemeriksaan rutin.

Pelatihan

Pengalaman

Sertifikat

Kontak

IRMS

Survai Perhitungan Lalu Lintas dengan alat ATC

June 5, 2018

Survai Perhitungan Lalu Lintas dengan alat ATC

Survei Automatic Traffic Counter (ATC)

Automatic Traffic Counter (ATC) merupakan perangkat penghitung kendaraan yang dapat memberikan informasi tentang keadaan lalu lintas di jalan raya. Informasi berupa jumlah kendaraan, arah kendaraan, kelas kendaraan dan kecepatan kendaraan yang lewat.

Ada dua jenis sensor yang terpasang untuk memperoleh data ini, yaitu permanent dan temporary.

Juga terdapat dua jenis peralatan yang digunakan untuk mengumpulkan data tersebut yaitu Marksman 400 untuk temporary dan Marksman 660 untuk permanent.

Perbedaan yang sangat mencolok diantara kedua Marksman tersebut adalah pada sensor yang digunakan.

Untuk Marksman 400 digunakan dua buah selang karet (tube) sebagai sensor sementara untuk Marksman 660 digunakan 2 buah jenis sensor yaitu Piezo sensor dan Loop sensor yang dipasang dan ditanam permanent dijalan raya, dengan perbedaan ini diperoleh data akhir yang berbeda juga.

Ada 3 jenis program yang digunakan dalam pengoperasian, yaitu program FrontEnd dan GRView yang digunakan oleh operator lapangan sedangkan satu program lain yaitu program analisa hasil akhir yang digunakan oleh bagian analisa disebut dengan Target Lite.

Pada buku manual ini hanya dipaparkan aplikasi pemakaian program secara berurutan dari mengeset alat sampai memeriksa data hasil dilapangan.

Disamping buku manual ini diberikan juga file untuk buku manual asli dalam bahasa Inggris lengkap, program untuk pengoperasian dan file untuk buku manual ini sendiri, untuk mengenal lebih lanjut tentang Marksman 660 maupun Marksman 400 dan semua aplikasinya disarankan untuk membaca dan membuka file buku manualnya.

 

IRMS

Survai Kekasaran Permukaan Jalan secara visual (RCI)

June 5, 2018

Tentang Survai Kekasaran Permukaan Jalan secara visual (RCI)

Survai secara visual adalah survai yang dilakukan dengan pengamatan visual pada ruas-ruas jalan yang disurvai dan ditentukan nilai RCI-nya berdasarkan jenis permukaan serta kondisi visual ruas jalan tersebut. RCI adalah Road Condition Index, indek kondisi kekasaran jalan.

PELAKSANAAN

Personil

Survai dilakukan oleh 3 orang Surveyor dan seorang pengemudi.

 

 Peralatan dan Perlengkapan

  1. Kendaraan yang digunakan harus mempunyai tempat duduk para Surveyor sedemikian rupa sehingga mereka dapat mengamati permukaan jalan dengan baik.
  2. Formulir Survai.
  3. Alat-alat tulis, alas untuk menulis (writing pad), kamera digital untuk foto dokumentasi.

 

Persiapan

  1. Agar dibuat perencanaan survai berdasarkan peta jaringan jalan yang akan disurvai, serta kemampuan survai setiap hari.
  2. Agar dipersiapkan formulir survai dengan mengisi kolom identitas, kolom km. Serta kolom pembacaan trip meter/odometer dengan mengambil data dari hasil survai data titik referensi ruas yang bersangkutan. Apabila titik referensi berupa tanda cat agar dalam pengisian formulir diberi (*) untuk membedakan titik referensi yang berupa patok km.

 

 Pelaksanaan Survai

  1. Survai dilakukan dengan menggunakan kendaraan pada ruas-ruas jalan yang harus disurvai dan dilakukan oleh 3 orang Surveyor dalam satu kendaraan yang masing-masing melakukan pengamatan visual dan menentukan nilai RCI-nya.

Penentuan besarnya nilai RCI ditinjau berdasarkan jenis permukaan serta berdasarkan penilaian kondisi secara visual dapat diperiksa pada lampiran 1.

  1. Untuk survai yang dilakukan pada suatu ruas jalan yang mempunyai jalur pemisah (median, saluran atau lainnya) maka survai dilakukan pada jalur yang diperkirakan mempunyai nilai kekasaran lebih besar.
  2. Formulir survai dapat dilihat pada lampiran 2.
  3. Petugas surai/surveyor harus yang telah mendapat pelatihan teori dan pratek di lapangan sehingga benar-benar memahami prosedur survai serta cara pengisian formulir

Berikut ini dilampirkan Gambar Penentuan Nilai RCI  :

RCI

 

Berikut ini dilampirkan Contoh Form Pengisian RCI :

Form RCI

Form RCI

IRMS

Survai Lalu Lintas (Traffic)

June 4, 2018

Tentang Survai Lalu Lintas (Traffic)

Pengertian Survei Lalu Lintas (Traffic)

 

Survai perhitungan lalu lintas adalah kegiatan pokok dan sangat panting dilakukan untuk mendapatkan data volume lalu lintas untuk berbagai keperluan teknik lalu lintas maupun perencanaan transportasi. Survai pencacahan lalu lintas dapat dilakukan dengan cara manual, semi manual (dengan bantuan kamera video), ataupun otomatis (menggunakan tube maupun loop). Dan ketiga metode ini, survai dengan cara manual sangat digemari dan banyak digunakan di Indonesia karena tidak memerlukan persiapan yang rumit, dan relatif dapat mengeliminasi kesalahan pencacahan akibat periiaku pengendara di Indonesia yang cenderung tidak disiplin pada lajurnya.

Mempertimbangkan besarnya frekuensi penggunaan metoda ini, perlu ditetapkan suatu pedoman yang mengatur kaidah-kaidah dan tata laksana pencacahan, sehingga didapatkan data yang akurat dari pencacahan yang dilakukan.

Pedoman ini disusun untuk mengakomodasi berbagai keperluan data lalu lintas balk pada ruas jalan maupun persimpangan. Referensi yang digunakan dalam pedoman ini adalah berbagai pengalaman praktis dan manual-manual yang telah disusun untuk berbagai kepentingan studi ataupun perencanaan. Dengan diterbitkannya pedoman ini, diharapkan ada suatu keseragaman dalam metoda pelaksanaan pencacahan, termasuk pengorganisasiannya, sehingga data yang didapat dari pencacahan dapat diverifikasi dan pelaksanaan pencacahan dapat dilakukan secara lebih sistematis.

Survai Perhitungan Lalu Lintas dengan cara Manual

 1. Ruang lingkup

Pedoman ini mengatur tata cara pencacahan lalu lintas dengan cara manual pada ruas jalan dan persimpangan untuk berbagai tujuan penggunaan data, seperti analisis geometri, kinerja lalu lintas dan struktur perkerasan jalan maupun manajemen lalu lintas. Pedoman ini mencakup tata cara survai, organisasi, peralatan dan langkah­langkah petaksanaan survai.

2 Acuan normatif

  • Undang-Undang RI Nomor : 13 Tahun 1980 tentang Jalan;
  • Undang-Undang RI Nomor : 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan; Undang-Undang RI Nomor : 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakelfaarr,
  • Peraturan Pemerintah RI Nomor : 26 Tahun 1985 tentang Jalan;
  • Peraturan Pemerintah RI Nomor : 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas; Peraturan Pemerintah RI Nomor : 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi

 3. Istilah dan definisi

3.1 .Volume lalu lintas

Jumlah kendaraan bermotor yang melewati suatu titik pada jalan per satuan waktu, dinyatakan dalam kendaraan per jam atau LHRT (lalu lintas harian rata-rata tahunan).

3.2. Kendaraan

Unsur lalu lintas di atas roda.

3.3 Kendaraan ringan

Kendaraan bermotor ber-as dua dengan 4 roda dan dengan jarak as 2,0 m s.d. 3,0 m (meliputi mobil penumpang, opelet, mikrobis, pick-up dan truk kecil).

3.4.  Kendaraan berat

Kendaraan bermotor dengan lebih dari 4 roda (meliputi : bis, truk 2 as, truk 3 as dan truk kombinasi).

3.5 sepeda motor

kendaraan bermotor dengan 2 atau 3 roda (meliputi : sepeda motor dan kendaraan         roda  3.

3.6. Kendaraan tak bermotor

Kendaraan dengan roda yang digerakkan oleh orang atau hewan (meliputi : sepeda, becak, kereta kuda dan kereta dorong).

3.7. Kapasitas

Arus lalu lintas maksimum yang dapat dipertahankan pada suatu bagian jalan dalam kondisi tertentu, biasanya dinyatakan dalam kendaraan per jam atau smp/h.

3.8  Alat cacah genggam (handy tally counter)

Alat untuk mencacah jumlah kendaraan; jumlah kendaraan tertera pada deret angka yang berubah setiap tuas ditekan.

3.9  Jalur

Bagian jalan yang dipergunakan untuk lalu lintas kendaraan.

3.10 Lajur

Bagian jalur yang memanjang dengan marka jalan, yang memiliki lebar cukup untuk satu kendaraan bermotor selain sepeda motor.

3.11  Periode pengamatan

Kurun waktu pengamatan terkecil.

3.12 Periode survai

Kurun waktu pelaksanaan pengukuran yang ditentukan berdasarkan tujuan survai.

3.13  Lalu lintas harian rata-rata

Volume lalu lintas rata-rata selama satu hari, yang didapat dari pengukuran selama beberapa hari dibagi dengan jumlah harinya.

 

4 Ketentuan

4.1 Ketentuan umum

4.1.1 Perijinan

Pelaksanaan survai pencacahan laiu lintas harus meminta ijin kepada instansi setempat yang berwenang memberi ijin, minimal pembina jalan, dan melakukan koordinasi dengan kepolisian.

4.1.2 Keselamatan dan kesehatan

Selama melakukan survai, petugas survai diharuskan

  • mengikuti ketentuan keselamatan kerja yang berlaku;
  • dalam keadaan sehat badan dan rohani;
  • mendapatkan perlindungan yang memadai dari cuaca, seperti terik sinar matahari atau hujan;
  • mengantisipasi kemungkinan terhadap tabrakan, karena adanya kendaraan atau lalu lintas yang hilang kendali;
  • menyediakan satu orang personil yang mampu melakukan pertolongan pertama pada kecelakaan.
4.1.3 Pelaksanaan survai

Dalam keadaan normal, survai harus diupayakan tidak terputus selama periode yang telah direncanakan. Untuk menghindarkan gangguan terhadap kesinambungan survai, petugas harus memastikan seluruh perlengkapan dan peralatan pencacahan bekerja dengan balk.

4.2 Ketentuan teknis

4.2.1 Organisasi survai dan uraian tugas

Organisasi survai diperlukan untuk memudahkan pelaksanaan pekerjaan dan memastikan seluruh komponen pekerjaan telah ditangani dengan baik. Ketentuan pengorganisasian sesuai pencacahan lalu lintas dijelaskan dalam butir-butir sebagai berikut :

  • besar kecilnya struktur organisasi survai pencacahan lalu lintas tergantung dari skala pekerjaan .satu tim survai, sekurang-kurangnya terdiri atas : koordinator survai, ketua kelompok/pos dan tenaga petugas surval. Apabila dianggap perlu, koordinator dapat menunjuk seorang staf yang berfungsi sebagai tenaga administrasi sekaligus pembantu umum tim surval. Struktur ideal organisasi pelaksana kegiatan dipertihatkan dalam Gambar 1.

 

  • tanggung jawab dan uraian tugas dari komponen dalam organisasi survai

pencacahan lalu lintas;

  1. a) koordinator survai
  • bertanggung jawab atas pelaksanaan survai, mengontrol aktifitas petugas survai dan mengadakan koordinasi dengan petugas lapangan Iainnya;
  • mempelajari tujuan, kaidah, dan tata cara pelaksanaan survai dan menjelaskannya kepada seluruh personil yang terlibat dalam survai;
  • menentukan saat mulai, penghentian sementara dan akhir survai;
  • mengambil keputusan di lapangan dan mengatasi setiap permasalahan yang timbut selama pelaksanaan survai kemudian mencatat dalam barite pelaksanaan survai;
  • membuat agenda (catatan harian) tentang berbagai masalah yang timbul selama pelaksanaan survai, misainya hambatan atau penghentian pelaksanaan survai beserta atasan-alasannya.

 

  1. b) ketua kelompok
  • bertugas membimbing dan mengawasi pelaksanaan survai, serta bertanggung jawab terhadap kuatitas data kepada koordinator;
  • menentukan penempatan petugas survai dengan pertimbangan penuh terhadap faktor keselamatan;
  • mengatur waktu istirahat bagi petugas pencacah;
  • memeriksa apakah petugas pencacah mengisi formulir survai dengan cara yang benar dan dengan tutisan yang dapat dibaca;
  • mengumpulkan dan menyimpan formulir survai yang teiah diisi oleh petugas pencacah;
  • mengatasi setiap permasalahan yang timbul selama petaksanaan survai kemudian mencatat dan melaporkannya kepada koordinator.
koordinator traffic

koordinator traffic

 

  1. c) petugas pencacah
  • bertugas melakukan kegiatan pencacahan kendaraan berdasarkan jenis, atau kelompok golongan jenis kendaraan, arah lalu-lintas, dan periode waktu pengamatan yang telah ditentukan;
  • menuliskan hasil pencacahan kendaraan setiap periode waktu yang telah ditentukan ke dalam formulir survai.

 

  1. d) pembantu umum
  • bertugas membantu koordinator demi kelancaran survai dan bertanggung jawab kepada koordinator;
  • menyiapkan segala kebutuhan yang diperiukan selama kegiatan survai yang terdiri dari perijinan survai, surat tugas,  formulir survai,  absensi, daftar petugas pencacah dan peralatan.
4.2.2.  Kemampuan petugas survai

Bagaimanapun juga sebagai manusia setiap petugas mempunyai keterbatasan,  maka untuk menjaga keakuratan data,  harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

  • jumlah maksimum golongan kendaraan yang dicacah oleh satu orang petugas pencacah adalah 3 golongan untuk satu arah;
  • petugas survai dalam melakukan pencacahan lalu lintas secara menerus, tidak lebih dart 8 jam (1 shift);
  • apabila survai lalu lintas memeriukan waktu lebih dan 8 jam (1 shift), maka waktu pencacahan dibagi-bagi dalam shift, dan dalam keadaan tertentu (misalnya makan, dan buang air), petugas harus digantikan hingga petugasltersebut dapat

bertugas kembali.

4.2.3.  Lokasi pos

Pos pencacahan ditempatkan dengan memperhatikan kondisi lokasi survai sebagai berikut :

  • Survai pada jaringan jalan antar kota, pos harus ditempatkan pada ruas jalan, dimana :

Laiu lintas tidak dipengaruhi oleh lalu lintas ulang alik (commuter traffic), pos mempunyai jarak dan kebebasan pandang yang cukup untuk kedua arah karakter pergerakan lalu lintas mewakili pergerakan lalu lintas pada ruas jalan.

  • Survai pada jaringan jalan perkotaan, pos harus ditempatkan pada ruas jalan, dimana :

– Lalu lintas yang dicacah tidak dipengaruhi oleh pergerakan lalu lintas dari persimpangan.

– Pos harus mempunyai jarak pandang yang cukup untuk mengamati kedua arah.

  • Survai pada persimpangan.
  • Pos harus ditempatkan pada lengan persimpangan, dimana :
  • Pos mempunyai jarak pandang yang cukup untuk mengawasi pergerakan pada lengan-lengan yang ditinjau.
  • Pos tidak mengganggu kebebasan pandang pengemudi.
  • Lokasi pos dapat memberikan ruang pengamatan yang jelas untuk melihat lintasan dan arah pergerakan lalu lintas.
  • Pos sebaiknya ditempatkan di lokasi yang berdekatan dengan lampu penerangan dan ternpat berteduh.
4.2.4 Jenis kendaraan

Pencacahan ialu lintas secara garis besar dibagi dalam 8 golongan, yang masing­masing golongan terdiri atas beberapa jenis kendaraan, seperti yang diuraikan dalam Tabel 1.

 

Golongan dan Kelompok Kendaraan

Golongan dan Kelompok Kendaraan

Catatan :

  • Kendaraan-kendaraan yang memiliki fungsi khusus, seperti kendaraan militer (tank, pansher), kendaraan konstruksi/alat berat (bulldozer dan lain-lain), mobil pemadam kebakaran, ambulan dan konvoi kendaraan, tidak dicacah.
  • Pengelompokan golongan kendaraan tersebut sudah mewakili untuk berbagai jenis analisa, seperti untuk digunakan pada : kinerja lalu lintas/kapasitas, geometri, struktur perkerasan jalan maupun manajemen lalu lintas.
  • Kendaraan tak bermotor dimasukkan pada hambatan samping.
4.2.5 Formulir survai

Formulir survai terdiri atas formulir lapangan (ruas jalan dan persimpangan) dan formulir himpunan, formulir harus dilengkapi identitas, seperti berikut ini :

  1. adanya logo/nama instansi/lembaga dan atribut lainnya yang dituangkan di sebelah kin bagian atas formulir;
  2. adanya keterangan mengenai lokasi, pelaksanaan survai dan kondisi cuaca, meliputi :
  • jumlah lembar
  • nomor propinsi
  • nama propinsi
  • nomor pos
  • lokasi pos
  • tanggal
  • arah lalu lintas
  • keterangan cuaca
  • pencatat / pengawas

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran A (formulir lapangan untuk ras jalan dan persimpangan) dan lampiran B (formulir himpunan).

 

4.2.6 Peralatan

Surval pencacahan lalu lintas dengan cara manual tidak memerlukan peralatan secara khusus, peralatan yang dipedukan meliputi :

1)  peralatan utama, yang terdiri atas :

  1. formulir pencacahan dan himpunan, seperti diuraikan pada sub-bab 4.2.5;
  2. alat tulis pensil, disarankan menggunakan pensil mekanik untuk menghindari terjadinya gangguan, karena patahnya ujung pensil, sebaiknya setiap petugas pencacah membawa pensil cadangan;
  3. alat penghapus, digunakan oleh petugas pencacah apabila terjadi kesalahan penulisan pada formulir survai;
  4. hand board, sebagai alas menulis dan penjepit bundel data;
  5. Peralatan bantu, yaitu alat cacah genggam, lihat Gambar 2.

2) peralatan pendukung, yang terdiri atas :

  1. jas hujan;
  2. lampu senter;
  3. alat penerangan lain, seperti lampu minyak;
  4. as plastik.

3) seluruh peralatan yang digunakan harus dipastikan berfungsi dengan baik, tidak mudah rusak, mudah dioperasikan dan memenuhi persyaratan untuk mencatat.

IRMS

Survai Kekasaran Permukaan Jalan (NAASRA)

June 4, 2018

Tentang Survai Kekasaran Permukaan Jalan (NAASRA)

Survai kekarasan permukaan jalan ini dimaksud untuk mendapatkan data mengenai kondisi lapisan permukaan jalan.

Survai kekasaran permukaan jalan dapat dilaksanakan secara visual dan atau dengan menggunakan alat NAASRA atau yang sejenis dengan NAASRA.

Survai kekerasan permukaan jalan ini diterapkan pada pelaksanaan Jalan Nasional yang Bukan Jalan Tol dan secara umum dapat pula dimanfaatkan untuk ruas jalan Provinsi.

Tata cara pelaksanaan survai ini mengacu pada Buku Pedoman Survai Permukaan Jalan Secara Visual dan Buku Pedoman Survai Permukaan Jalan dengan Alat NAASRA.

IRMS

Survai Kondisi Jalan (SKJ)

June 4, 2018

Tentang Survai Kondisi Jalan (SKJ)

Survai Kondisi Jalan disingkat SKJ ini dimaksud untuk mendapatkan data kondisi dari bagian-bagian jalan yang mudah berubah berdasarkan titik Referensi sesuai kebutuhan untuk penyusunan rencana dan program pembangunan jaringan jalan.

 

Survai kondisi jalan ini diterapkan pada pelaksanaan jalan Nasional yang Bukan Jalan Tol dan secara umum dapat pula dimanfaatkan untuk ruas jalan Provinsi.

 

Tata cara pelaksanaan survai ini mengacu pada Buku Pedoman Survai Kondisi Jalan.

IRMS

Survai Inventarisasi Jalan (SIJ/ RNI)

June 4, 2018

Survai Inventarisasi Jalan (SIJ/ RNI)

Survai Inventarisasi Jalan disingkat SIJ ini dimaksud untuk mencatat data jalan yang tidak mudah berubah (tipe jalan, median, lapis permukaan, bahu, saluran camping, terrain, alinyemen vertikal, alinyemen horizontal, tata guna lahan).

Survai inventarisasi jalan ini diterapkan pada pelaksanaan jalan Nasional yang Bukan Jalan Tol dan secara umum dapat pula dimanfaatkan untuk ruas jalan Provinsi

Tata cara pelaksanaan survai ini mengacu pada Buku Pedoman Survai Inventarisasi Jalan.

IRMS

Survai Titik Referensi (STR/ DRP)

June 4, 2018

Tentang Survai Titik Referensi

Survai Titik Referensi Jalan disingkat STR  ini dimaksud untuk menentukan titik Referensi pada ruas jalan dilapangan yang akan dipergunakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan survai jalan lainnya. Titik Referensi dapat ditentukan terhadap kota awal kilometer atau dapat pula dari panjang jalan sebenarnya dari suatu ruas jalan.

 

Titik Referensi dapat berupa patok kilometer, jalan, underpas, fly over, gorong-gorong, persimpangan jalan, persimpangan dengan jalan kereta api, persimpangan dengan jalan tol Berta bangunan permanen lainnya yang mudah dikenal seperti kantor pemerintahan, rumah sakit, sekolah, universitas, pasar induk dan lainnya.

Survai titik Referensi ini diterapkan  pada pelaksanaan jalan Nasional Bukan Jalan Tol dan secara umum dapat pula dimanfaatkan untuk ruas jalan Provinsi

Tata cara pelaksanaan survai ini mengacu pada Buku Pedoman Survai Titik Referensi Jalan.

IRMS

Tentang IRMS

June 4, 2018

IRMS (INTEGRATED ROAD MANAGEMENT SYSTEM)

Maksud dan Tujuan IRMS

Maksud dan tujuan IRMS adalah untuk mengumpulkan data hasil survei jalan berdasarkan IRMS untuk penyusunan rencana dan program. Salah satu tujuan IRMS adalah mengelola data Jalan dengan efektif dan tepat sasaran sehingga penyusunan program penanganan dapat dilakukan semaksimal mungkin.

Ruang Lingkup

Lingkup pelaksanaan untuk survai jalan meliputi :

  1. Survai Titik Referensi Jalan (STR / DRP)
  2. Survai Inventarisasi Jalan (RNI)
  3. Survai Kondisi Jalan (RCS /SKJ)
  4. Survai Kekasaran Permukaan Jalan secara visual (RCI)
  5. Survai Kekasaran Permukaan Jalan dengan alat (NAASRA)
  6. Survai Perhitungan Lalu Lintas secara manual (TRAFFIC)
  7. Survai Perhitungan Lalu Lintas dengan alat ATC

Batasan Waktu Pelaksanaan

Survai jalan dilaksanakan setahun dua kali dengan rentang waktu pertama antara bulan ke empat sampai bulan ke enam  bulan ( April – Mei – Juni)  dan survai kedua dilaksanakan antara bulan ke sepuluh sampai bulan ke dua betas ( Oktober – November – Desember ).

Survai pertama dilaksanakan untuk me-review (kaji ulang) usulan program dan anggaran hasil survai tahun sebelumnya dan survai kedua untuk perencanaan dan program penanganan dua tahun kedepan.

Pelaksanaan pengumpulan data harus mengacu pada jadwal yang ditetapkan dengan ketentuan sebagai berikut :

  1. Seluruh pemasukan data hasil survai Semester pertama harus telah diselesaikan dan database dikirimkan ke Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional dan Direktorat Bina Program pada minggu pertama bulan Juli.
  2. Seluruh pemasukan data hasil survai Semester kedua harus telah diselesaikan dan database dikirimkan ke Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional dan Direktorat Bina Program pada minggu ke empat bulan Nopember.

Waktu Pelaksanaan

Survai jalan dilaksanakan secara serentak diseluruh Indonesia dengan rincian  sebagai berikut :

Survai Semester I :

  • Survai Jalan dilaksanakan minggu pertama bulan April dan harus selesai minggu ke empat bulan Mei
  • Data hasil survai dan yang telah di input harus sudah sampai di Balai terakhir minggu ke3 bulan Juni.
  • Khusus untuk kalibrasi Kendaraan/alat NAASRA disetiap P2JJ harus selesai dilaksanakan minggu ke tiga bulan April.

Pada Semester ini harus dilaksanakan semua jenis survai sebagai berikut :

  • Survai Inventarisasi Jalan
  • Survai Kondisi Jalan
  • Survai Kekasaran Permukaan Jalan
  • Survai Perhitungan Lalu Lintas

Survai Semester II :

  • Untuk survai jalan semeser ke dua dapat mulai dilaksanakan minggu pertama bulan Oktober dan harus selesai  minggu ke dua bulan November
  • Khusus untuk kalibrasi kendaraan/alat NAASRA disetiap P2JJ harus selesai dilaksanakan minggu ke tiga bulan Oktober

Pada Semester ini harus dilaksanakan semua jenis survai sebagai berikut :

  • Survai Inventarisasi Jalan (apabila ada perubahan)
  • Survai Kekasaran Permukaan Jalan
  • Survai Kondisi Jalan

Jadwal pelaksanaan survai ada pada lampiran.

Dasar Hukum

Dasar hukum yang digunakan sebagai payung untuk menyelenggarakan survai jalan dan jalan adalah  :

  1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2004 Tentang jalan.
  2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 Tentang lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
  3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP)
  4. Undang-Undang No.25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
  5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2006 Tentang Jalan.
  6. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 Tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia.
  7. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 08/PRT/M/2010 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Pekerjaan Umum.
  8. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 23/PRT/M/2008 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar dan Balai di Lingkungan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air dan Direktorat Jenderal Bina Marga.
  9. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 630/KPTS/M/2009 Tentang Penetapan Ruas-Ruas Jalan Dalam Jaringan Jalan Primer, menurut Fungsinya Sebagai Jalan Arteri dan Jalan Kolektor 1
  10. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 631/KPTS/M/2009 Tentang Penetapan Status Ruas-Ruas Jalan Menurut Statusnya Sebagai Jalan Nasional.

Aspek Kelembagaan

Unit kerja yang terkait dan menjadii pelaksana survai mendapatkan data Jalan IRMS adalah :

  1. Subdirektorat Pengembangan Sistem dan Evaluasi Kinerja Direktotrat Bina Program dengan fungsi sebagai pengelola data jalan dan jalan yang mendistribusikan ke unit pengguna di tingkat Direktorat Jenderal Bina Marga.
  2. Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah dengan fungsi sebagai pengelola dan pengguna data jalan dan jalan di wilayahnya.
  3. Satuan Non Vertikal Tertentu (SNVT) Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jalan (P2JJ) di Provinsi dengan fungsi sebagai pelaksana pengumpulan data, pengelola dan pengguna data Jalan dan Jalan

PEMANTAUAN DAN PENGAWASAN

Pemantauan dan pengawasan dilakukan dengan maksud agar pelaksanaan survai, pemasukan data serta pelaporan dapat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan teknis dan jadwal waktu yang telah ditetapkan.

Pemantauan dan pengawasan penerapan sistem dan prosedur dilaksanakan oleh Kepala Balai dan Dir.Bipram c.q PSEK.

Jadwal waktu pemantauan dan pengawasan dilakukan dalam masa pelaksanaan survai sesuai situasi yang dihadapi masing-masing provinsi.

Anggaran untuk pelaksanaan pemantauan dan pengawasan survai dan pemasukan data bagi petugas pelaksana dialokasikan oleh masing-masing instansi yang mengutusnya.

PEMERIKSAAN DATA

Pemeriksaan data (verifikasi) diakukan unutk menjamin kelegkapan dan keakuratan data.

Verifikasi dilaksanakan setelah pelaksanaan pengumpulan data/survai dan setelah pemasukan data oleh penanggung jawab dari P2JJ.

Verifikasi juga dilaksanakan oleh Balai dan Sub Dit PSEK setelah menerima laporan kegiatan pengumpulan data dan pemasukan data jalan.

Selain itu pemeriksaan Data (Audit ) dilapangan periu dilakukan untuk menentukan mutu keakuratan data hasil survai tersebut disuatu provinsi. Pemeriksaan data dilapangan dilaksanakan oleh Sub Dit PSEK .

Pemeriksaan data dilapangan harus selesai dilaksanakan sebelum laporan akhir hasil survai jalan per Semester disampaikan ke Subdirektorat Program dan Anggaran untuk diproses menjadi rencana dan program pembangunan jalan secara nasional.

PEMASUKAN DATA

  1. Pemasukan data dari hasil survai lapangan dilaksanakan oleh P2JJ bersangkutan dan harus menggunakan aplikasi IRMS yang telah ditentukan.
  2. Tatacara pemasukan data harus mengacu pada Manual Modul Sistem Pemasukan Data Jalan IRMS yang ditetapkan.
  3. Pemasukan data hasil survai dilaksanakan oleh P2JJ secara swakelola .
  4. Untuk menjamin kelengkapan dan keakuratan data PJJ harus memverifikasi pemeriksaan data sebelum disampaikan kepada Balai.
  5. Pemasukan data oleh P2JJ Semester I harus selesai paling lambat minggu ke 1 bulan Juni .
  6. Untuk Semester II paling lambat minggu ke 4 bulan November, apabila dipandang perlu pemasukan data dilakukan di Balai sesual wilayah atau di pusat dikoordinasikan oleh Subdirektorat Pengembangan Sistem dan Evaluasi Kinerja Direktorat Bina Program.
  7. Data hasil survai dan yang telah di input harus sudah sampai di Balai terakhir minggu ke 1 bulan Desember dan data hasil survai.
  8. Anggaran pemasukan data dialokasikan oleh P2JJ masing-masing dan biaya koordinasi (apabila diperlukan) dibebankan kepada instansi masing-­masing.

 

Alur proses penyusunan dan penyampaian data dpat digambarkan sebagai berikut :

irms

Alur penyampaian data irms

 

Sumber : Buku Panduan Survei IRMS

Islam, Story

7 Golongan yang Mendapatkan Naungan Allah (beserta penjelasan dan pengalaman)

November 8, 2017

Bismillahhir rahmanir rahim:
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Pada hari kiamat manusia dikumpulkan di padang Mahsyar untuk mempertanggungjawabkan setiap amal perbuatan yang telah dikerjakanya selama di dunia.
Kondisi pada saat itu sangatlah panas sekali, karena matahari didekatkan di atas kepala manusia dengan jarak satu mil. Ditambah manusia pada saat itu dalam keadaan tak beralas kaki, tidak berkhitan dan tidak mengenakan pakaian.
Namun berkat rahmat Allah ta’ala ada sekelompok manusia yang akan dinaungi oleh Allah ta’ala dari panasnya terik matahari saat itu.

Disebutkan dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan ‘Arsy Allah Ta’ala dimana tidak ada naungan kecuali hanya naungan Allah Ta’ala. Yaitu:
1. Pemimpin yang adil

Jaman sekarang banyak yang menginginkna jadi pemimpin tapi mereka tidak tahu betapa beratnya jadi seorang pemimpin dan pertanggung jawabanya di akherat kelak.
2. Pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah Ta’ala
3. Seorang yang hatinya senantiasa bergantung di masjid
4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah Ta’ala. Mereka berkumpul karena Allah dan mereka pun berpisah juga karena Allah Ta’ala.
5. Seorang yang diajak wanita untuk berbuat yang tidak baik, dimana wanita tersebut memiliki kedudukan dan kecantikan, namun ia mampu mengucapkan, “Sungguh aku takut kepada Allah”.
6. Seorang yang bersedekah dan dia sembunyikan sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.
7. Seorang yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian sehingga kedua matanya meneteskan air mata.”

Yuk tonton video 7 Golongan yang Mendapatkan Naungan Allah.
Semoga kita termasuk dari mereka. Aamiin …

dikutip dari :Yufid tv